Oleh: dizzman | Desember 23, 2009

Di Balik Layar Koin Prita

Fenomena koin Prita nampak seperti bola salju yang menggelinding lama kelamaan membesar dan bersatu melindas ketidakadilan. Peristiwa ini dapat ditangkap sebagai suatu peristiwa dimana media internet, disamping media mainstream, berperan besar dalam menggelindingkan bola salju tersebut. Dan pada hari ini telah mencapai titik kulminasinya, dengan akan diserahkannya koin tersebut kepada yang bersangkutan. Peradaban baru telah lahir, dimana dunia maya menjadi kekuatan yang mampu mengimbangi alam nyata dan media mainstream dalam mengolah isu-isu kritis saat ini.

Namun ada sesuatu yang menarik untuk ditangkap dari fenomena pengumpulan koin tersebut. Pertama, terlihat sekali ternyata bahwa sebagian besar masyarakat masih peduli pada ketidakadilan yang menimpa saudaranya. Kedua, semua bahu membahu dengan cair dan ikhlas menghitung satu demi satu koin hingga mencapai ratusan juta rupiah, tanpa ada kecurigaan bakal hilang atau ditilep, dan belum ada satupun yang tertangkap basah mengantungi koin-koin tersebut. Ketiga, gerakan bersifat cair, artinya siapa saja bisa terlibat, tidak peduli kaya miskin, pengusaha atau pengemis, sehat atau sakit, semua berbaur tanpa ada keinginan menonjolkan diri. Untuk hal ini salut saya sampaikan kepada om Yusro dan om Ndaru serta teman-teman di Langsat dan Jatipadang yang dengan rendah hati tidak mau dicantumkan namanya dalam Rekor MURI atau Indonesia Book of Record, tetapi hanya bersedia dicantumkan nama seluruh masyarakat Indonesia di sana.

Hal lain yang lebih penting adalah peristiwa tersebut dapat dianggap sebagai corong untuk menyuarakan hati nurani rakyat tanpa harus melawan hukum. Koin Prita seperti kanal yang menyalurkan rasa jengah dan rasa marah rakyat terhadap ketidakadilan yang masih terjadi dalam proses hukum yang disimbolkan oleh ibu Prita. Hal ini mengingatkan penulis kepada peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949, dimana rakyat bahu membahu bersama pejuang berusaha untuk meyakinkan dunia internasional bahwa Indonesia masih ada, dengan melakukan Serangan Fajar ke Kota Yogyakarta selama enam jam. Peristiwa tersebut seperti sulit terulang kembali dalam skala nasional, hanya reformasi 1998 dan saat ini saja kejadian dimana rakyat bahu membahu dengan ikhlas dapat dilihat dengan kasat mata. Selebihnya, kita sering mendengar adanya demo bayaran, atau demo anarkis yang lebih bersifat destruktif ketimbang positifnya.

Mudah-mudahan fenomena ini dapat berlanjut secara simultan dan cair, untuk tetap mengingatkan pemerintah dan wakil rakyat serta penegak hukum agar senantiasa bekerja secara profesional dan proporsional, tidak tebang pilih. Gerakan tersebut dapat berkembang menjadi revolusi damai seperti di Rusia atau Jerman Timur, dengan tanpa kekerasan mampu merobohkan tembok komunisme yang saat itu tidak akan mungkin dibayangkan sebelumnya. Salut buat seluruh masyarakat Indonesia yang masih peduli dengan penuh keikhlasan tanpa pamrih bahu membahu mengkritisi ketidakadilan tanpa harus melawan hukum dan berbuat destruktif.

Oleh: dizzman | Desember 22, 2009

Mother How Are You Today

mother

Kasih ibunda sepanjang jalan, kasih anak sepanjang galah. Begitulah kata peribahasa, terkadang memang benar adanya, sadar atau tidak sadar. Susah payah ibunda mengandung dan melahirkan kita, sementara ayah hanya senang untuk membuat kita dan adik-adik kita.  Ibunda selalu sabar menunggu kita keluar dari rahimnya, bisa sehari, bisa seminggu, bahkan lebih. Terkadang sampai harus meregang nyawa, mengingat sulitnya kita keluar dari rahim ibunda. Setelah lahirpun, kita selalu merepotkan beliau dengan tangisan dan rengekan khas bayi. Siang malam tak kenal lelah ibunda memelihara kita, menjaga kita dari ancaman lapar dan haus, memandikan dan memakaikan baju. Kita tumbuh dan mulai nakal, ibunda pula yang mengingatkan kita dengan lemah lembut. Bahkan hingga kita berkeluargapun, ibunda tetap selalu cemas dan khawatir dengan diri kita.

Tapi apa yang sudah kita berikan pada ibunda? Coba renungkan sendiri di bawah ini.

Ketika kita sakit, ibunda yang menunggu kita. Ketika ibunda sakit, boro-boro kita mau menunggunya.

Ketika kita butuh duit, ibunda yang mengirimkannya. Ketika ibunda butuh duit, kita cuma menggeleng kepala.

Ketika kita stress, ibunda yang menenangkan kita. Ketika ibunda stress, kita hanya duduk termangu.

Ketika kita tak bisa jalan, ibunda yang mengantarkan. Ketika ibunda tak bisa jalan, tak ada waktu kita untuk mengantarkan.

Ketika kita curhat, ibunda pendengar setianya. Ketika ibunda curhat, kita selalu mendebatnya.

Ketika ibunda pergi, beliau selalu mengabari kita. Ketika kita pergi, tak ada kabar buat ibunda.

Ketika ibunda ada rezeki, selalu beliau membagi rata. Ketika kita ada rezeki, tak ada bagian ibunda.

Ibu tidak pernah berhitung untuk membesarkan diri kita, sementara kita selalu berhitung apa yang sudah diberikan pada ibu.

Apa kabar ibunda hari ini? Mudah-mudahan ibunda tetap sehat selalu, tetap sabar melihat kenakalan anakmu, tetap setia mengasuh anakmu, tanpa pamrih dan tulus selalu.

Salam sayang dari putramu yang nakal ini.

Oleh: dizzman | Desember 21, 2009

Tragedi Wafatnya Pejabat Penerimaan CPNS

Sungguh kaget penulis ketika membaca koran lokal saat sedang menunggu masakan makan siang di sebuah restoran hari Sabtu (19/12/2009) lalu. Ada seorang pejabat yang penulis kenal wafat terkena serangan jantung dan beritanya masuk koran setempat. Mungkin berita tersebut adalah hal biasa bila tidak ada sebab musabab yang mendasarinya. Hal yang menjadikan berita ini luar biasa adalah beliau wafat akibat serangan jantung, setelah sehari sebelumnya didatangi oknum pejabat tinggi lain yang mencak-mencak dengan kata-kata kotor yang menyakitkan hati, akibat salah seorang anggota keluarganya tidak lulus tes CPNS di daerah itu. Oknum tersebut mungkin lupa bahwa yang titip bukan cuma dia, dan tetap ada mekanisme aturan yang harus ditaati. Memang ajal semua di tangan Tuhan YME, namun sungguh menyedihkan apabila disebabkan oleh sesuatu tekanan yang luar biasa seperti itu.

Penulis cukup mengenal beliau ketika masih bertugas di daerah tersebut. Beliau bukanlah seorang yang ambisius atau neko-neko, dan selalu memegang teguh peraturan walaupun kadang-kadang harus menentang arus. Dari masih menjadi Kabag Kepegawaian, Camat, hingga Kepala Dinas, beliau senantiasa dekat dengan anak buah, dan selalu mementingkan hasil pekerjaan dengan baik, tidak peduli siapa dibalik yang mengerjakan pekerjaan tersebut. Beliau juga dikenal relatif bersih dan tidak tersangkut kasus hukum atau gosip apapun selama menjalani karirnya. Oleh karena itu, penulis sangat kehilangan beliau yang sudah seperti ayah bagi anak buahnya.

Sebagai pejabat tinggi, apalagi yang berkaitan dengan penerimaan CPNS, tentunya banyak sekali titipan dari pejabat tinggi lain baik selevel maupun sejawatnya. Tekanan demi tekanan beliau terima dengan tabah, walau dengan resiko nyawa sekalipun. Beliau dikenal tegas dan tidak pandang bulu bahkan dengan pejabat yang lebih tinggi sekalipun. Beliau hanya menerima CPNS yang layak setelah melalui serangkaian tes, bukan semata-mata titipan atau pesanan pihak tertentu. Beliau tidak peduli titipan atau bukan, selama lulus tes, yang bersangkutan berhak untuk diterima jadi CPNS. Walaupun ada satu dua titipan yang lolos, tapi itu karena memang lulus tes, bukan semata-mata titipan pejabat saja.

Memang akhir-akhir ini beliau mengeluhnya penyakit jantungnya yang kembali kumat, terutama pada masa-masa penerimaan CPNS yang penuh intrik dan tekanan politik. Beliau berusaha sekuat tenaga untuk menghadapi itu semua dengan dasar aturan yang jelas. Namun begitulah perilaku sebagian oknum pejabat tinggi kita, masih saja ada yang berusaha menitipkan anggota keluarganya tanpa malu-malu dengan tidak melalui tes atau memaksakan diri diluluskan tes. Hal itulah yang beliau tolak, dan beliau pula yang harus menanggung akibatnya. Lagi-lagi kita harus kehilangan putra terbaik hanya gara-gara ambisi pribadi seseorang yang memiliki kewenangan lebih.

Sudah beberapa kejadian seperti ini terulang. Masih belum hilang dari ingatan kita ketika ada seorang pejabat bunuh diri, atau dibunuh secara keji, atau terkena serangan jantung akibat tekanan untuk melanggar aturan yang dilakukan oleh orang lain. Masih belum sadarkah kita bahwa hal-hal itulah yang menyebabkan hancurnya moral dan integritas para petinggi negeri ini. Lalu sampai kapan kita akan tetap seperti ini? Semoga Tuhan YME mengampuni dosa-dosa beliau, dan menerima segala amalnya di hari akhir nanti. Beliau adalah pahlawan bagi kami… lepas dari khilaf dan alfanya. Selamat jalan Pak…. kami akan selalu mendoakanmu.

Oleh: dizzman | Desember 21, 2009

Tragedi Wafatnya Pejabat Penerimaan CPNS

Sungguh kaget penulis ketika membaca koran lokal saat sedang menunggu masakan makan siang di sebuah restoran hari Sabtu (19/12/2009) lalu. Ada seorang pejabat yang penulis kenal wafat terkena serangan jantung dan beritanya masuk koran setempat. Mungkin berita tersebut adalah hal biasa bila tidak ada sebab musabab yang mendasarinya. Hal yang menjadikan berita ini luar biasa adalah beliau wafat akibat serangan jantung, setelah sehari sebelumnya didatangi oknum pejabat tinggi lain yang mencak-mencak dengan kata-kata kotor yang menyakitkan hati, akibat salah seorang anggota keluarganya tidak lulus tes CPNS di daerah itu. Oknum tersebut mungkin lupa bahwa yang titip bukan cuma dia, dan tetap ada mekanisme aturan yang harus ditaati. Memang ajal semua di tangan Tuhan YME, namun sungguh menyedihkan apabila disebabkan oleh sesuatu tekanan yang luar biasa seperti itu.

Penulis cukup mengenal beliau ketika masih bertugas di daerah tersebut. Beliau bukanlah seorang yang ambisius atau neko-neko, dan selalu memegang teguh peraturan walaupun kadang-kadang harus menentang arus. Dari masih menjadi Kabag Kepegawaian, Camat, hingga Kepala Dinas, beliau senantiasa dekat dengan anak buah, dan selalu mementingkan hasil pekerjaan dengan baik, tidak peduli siapa dibalik yang mengerjakan pekerjaan tersebut. Beliau juga dikenal relatif bersih dan tidak tersangkut kasus hukum atau gosip apapun selama menjalani karirnya. Oleh karena itu, penulis sangat kehilangan beliau yang sudah seperti ayah bagi anak buahnya.

Sebagai pejabat tinggi, apalagi yang berkaitan dengan penerimaan CPNS, tentunya banyak sekali titipan dari pejabat tinggi lain baik selevel maupun sejawatnya. Tekanan demi tekanan beliau terima dengan tabah, walau dengan resiko nyawa sekalipun. Beliau dikenal tegas dan tidak pandang bulu bahkan dengan pejabat yang lebih tinggi sekalipun. Beliau hanya menerima CPNS yang layak setelah melalui serangkaian tes, bukan semata-mata titipan atau pesanan pihak tertentu. Beliau tidak peduli titipan atau bukan, selama lulus tes, yang bersangkutan berhak untuk diterima jadi CPNS. Walaupun ada satu dua titipan yang lolos, tapi itu karena memang lulus tes, bukan semata-mata titipan pejabat saja.

Memang akhir-akhir ini beliau mengeluhnya penyakit jantungnya yang kembali kumat, terutama pada masa-masa penerimaan CPNS yang penuh intrik dan tekanan politik. Beliau berusaha sekuat tenaga untuk menghadapi itu semua dengan dasar aturan yang jelas. Namun begitulah perilaku sebagian oknum pejabat tinggi kita, masih saja ada yang berusaha menitipkan anggota keluarganya tanpa malu-malu dengan tidak melalui tes atau memaksakan diri diluluskan tes. Hal itulah yang beliau tolak, dan beliau pula yang harus menanggung akibatnya. Lagi-lagi kita harus kehilangan putra terbaik hanya gara-gara ambisi pribadi seseorang yang memiliki kewenangan lebih.

Sudah beberapa kejadian seperti ini terulang. Masih belum hilang dari ingatan kita ketika ada seorang pejabat bunuh diri, atau dibunuh secara keji, atau terkena serangan jantung akibat tekanan untuk melanggar aturan yang dilakukan oleh orang lain. Masih belum sadarkah kita bahwa hal-hal itulah yang menyebabkan hancurnya moral dan integritas para petinggi negeri ini. Lalu sampai kapan kita akan tetap seperti ini? Semoga Tuhan YME mengampuni dosa-dosa beliau, dan menerima segala amalnya di hari akhir nanti. Beliau adalah pahlawan bagi kami… lepas dari khilaf dan alfanya. Selamat jalan Pak…. kami akan selalu mendoakanmu.

Oleh: dizzman | Desember 16, 2009

Kill Em All

metallica

Kill the anonymous

Kill the mentality of ‘must be wrong’(mental pokoknya)

Kill the talkative (asal njeplak)

Kill the clones

Kill the extremists

Kill the devils

Kill the imitation of HOD

Kill em all, even they are human being too….

(Sekali-kali nulis yang beginian ah…)

Oleh: dizzman | Desember 16, 2009

Kill Em All

Kill the anonymous

Kill the mentality of ‘must be wrong’

Kill the clones

Kill the extremists

Kill the devils

Kill the imitation of HOD

Kill em all, even they are human being too….

(Sekali-kali nulis yang beginian ah…)

Oleh: dizzman | Desember 16, 2009

Kill Em All

Kill the anonymous

Kill the mentality of ‘must be wrong’

Kill the clones

Kill the extremists

Kill the devils

Kill the imitation of HOD

Kill em all, even they are human being too….

(Sekali-kali nulis yang beginian ah…)

Oleh: dizzman | Desember 14, 2009

Kuda Troya

kuda troya

Sewaktu heboh pengumpulan koin buat Prita kemarin, ada seorang warga P yang nyaris di-PHK gara-gara membawa-bawa nama perusahaan sewaktu setor koin. Beliau kudu minta maaf ke seluruh bagian untuk menjelaskan bahwa koin itu atas nama individu, bukan perusahaan. Ketika dikonfirmasi, perusahaan takut ada unsur politis di balik aksi koin tersebut. Hari ini juga ada headline yang isinya mengingatkan seorang tokoh agar tidak mendramatisir kasus BC untuk mengganti pemerintahan baru. Tokoh tersebut ditengarai sedang berusaha mencalonkan diri untuk periode mendatang dari kubu independen.

Penulis jadi teringat istilah Kuda Troya atau dalam ekonomi disebut free rider untuk menggambarkan dua hal tersebut di atas. Dalam suatu peristiwa yang menghebohkan, selalu ada pihak-pihak yang ingin memanfaatkan momentum tersebut untuk berbagai motif di dalamnya. Motivasinya bermacam-macam, ada yang ingin jadi presiden, ada yang ingin masuk TV, ada yang ingin dikenal, ada yang ingin masuk lingkaranlah, dan sebagainya. Sementara yang benar-benar ikhlas membantu malah terkadang menjadi terabaikan gara-gara ada yang menyalip di tikungan. Akhirnya timbullah berbagai kecurigaan, mengapa hanya satu pihak saja yang diuntungkan, mengapa pihak lain yang justru lebih dirugikan tidak diungkap dan dihebohkan.

Bangsa kita memang senang pada hal-hal yang menghebohkan, dan momen itulah yang ditunggu-tunggu pihak tertentu untuk mencuri start. Pers memang berusaha tampil netral, tapi tetap saja momen tersebut menggelinding menjadi bola salju tak tertahankan. Secara tidak sengaja (atau disengaja) pers menjadi kompor dari isu yang semula kecil tersebut. Niat awalnya baik, tapi dampaknya memang luar biasa, bahkan hingga menggiring opini publik yang bisa menjadi liar apabila tidak segera dikendalikan.

Kita percaya bahwa pers kita selama ini masih memiliki itikad baik dalam posisinya sebagai media kontrol pemerintah. Hanya yang perlu diperhatikan adalah bagaimana mengendalikan suatu isu agar tidak menjadi bola liar dan dimanfaatkan pihak-pihak tertentu demi kepentingannya sendiri. Kasihanilah masyarakat yang benar-benar tulus dan berniat baik menjadi terserobot oleh kepentingan yang lagi-lagi hanya mengurusi diri sendiri atas nama rakyat.

Kuda Troya akan selalu menjadi virus dalam suatu momen dan tidak akan dapat dihilangkan. Namun demikian kita bisa mengontrolnya agar virus tersebut tidak menyebar kemana-mana dan memengaruhi opini publik untuk kepentingan tertentu. Biarlah publik menentukan pendapatnya sendiri, juga pendapatannya.

Oleh: dizzman | Desember 11, 2009

Appetite for Destruction

gunsnroses

Judul di atas diambil dari salah satu grup band ternama era 80-an, GunsnRoses, untuk menggambarkan kondisi masyarakat kita pasca reformasi. Baru-baru ini saat demo hari anti korupsi di Makassar, terjadi pelemparan batu dan perusakan terhadap fasilitas umum, bahkan kendaraan tak berdosa ikut menjadi korban. Sementara itu sudah sering kita dengar dan kita lihat sendiri betapa bangsa ini mudah sekali untuk dibakar emosinya dan merusak apa saja yang ada di depannya. Keinginan untuk merusakatau appetite for destruction telah menjadi budaya sendiri pasca reformasi ini.

Kita sampai tak habis pikir apa makna yang terkandung di balik perusakan itu. Motivasi apa yang membuat mereka tega merusak milik orang lain tanpa hak. Apa maksud semua itu, hanya memuaskan emosikah, atau memang ada keinginan lain yang tersembunyi. Perusakan demi perusakan atas nama kebebasan berekspresi menjadi lumrah di negeri kita tercinta ini. Mulai dari hal kecil, seperti merusak telepon umum, merusak halte, mencoret-coret tembok, hingga melempari batu bahkan membakar mobil dilakukan orang yang tidak bertanggung jawab. Demokrasi diartikan menjadi semau gue, tanpa ada batasan dan mengabaikan orang lain yang juga punya hak sama dengan kita.

Di satu sisi, mungkin bisa dimaklumi bahwa kesenjangan yang begitu tinggi, dan perilaku kotor yang dilakukan orang yang seharusnya jadi teladan, membuat orang begitu geram dan mudah tersulut emosinya. Namun di sisi lain, perusakan tidaklah dibenarkan, atas nama apapun, bahkan tidak ada satu agama atau hukum negara yang membenarkan hal tersebut tanpa hak. Benda atau material hanya boleh dirusak karena dikhawatirkan mengganggu kepentingan umum yang lebih luas, bukan semau gue. Tindakan anarkis apapun selalu berakibat merugikan diri sendiri dan orang lain, dan tidak ada untungnya sama sekali.

Sudah saatnya pemerintah mengambil tindakan tegas bagi para perusak tersebut, agar mereka dapat mempertanggungjawabkan perbuatannya terutama bagi orang yang dirugikan dan masyarakat luas. Hendaknya kita sebagai masyarakat juga sudah pandai memilah, mana aksi yang harus diikuti atau tidak, sekaligus juga mengingatkan saudara-saudara kita untuk tidak melakukan perusakan dalam melakukan aksinya. Kita harus mengajarkan rasa tanggung jawab kepada lingkungan di sekitarnya kita. Kalau ini dibiarkan berlanjut, negeri kita bisa jadi states of evil

Oleh: dizzman | Desember 10, 2009

Nikmatnya Abdi Negara di Negeri Impian

Jadi abdi negara memang enak. Ketika sesama koleganya di swasta harus bangun pagi subuh demi mengejar jam kantor, apalagi menghindari three in one, mereka malah bisa bangun agak siang sedikit, ngopi-ngopi dulu di buffet hotel, baru ke kantor. Secara teori sih jam 8.00 pagi harus masuk, tetapi nyatanya jam 9.00 saja masih sepi. Baru sekitar jam 10.00 mulai ramai kondisi kantor, itupun bukan untuk bekerja, tetapi buka komputer, chatting, browsing, googling, facebooking, everything deh pokoknya. Toh semua pekerjaan sudah diserahkan ke pihak ketiga, kita tinggal mengawasi saja. Kalau dikerjakan sendiri alias swakelola, pihak ketiga tidak bisa makan, dan setoran kurang lancar.

Agak siang sedikit, menghadiri undangan rapat, presentasi pihak ketiga, membantai pekerjaan mereka (padahal kalau dikerjakan sendiri lebih bagus), lalu makan siang gratis. Siang agak sorenya baca-baca laporan pihak ketiga yang selesai presentasi sambil coret sana coret sini. Menjelang sore siap-siap pulang menghindari macet, agar tidak keduluan sama koleganya dari swasta yang bakal membanjiri jalanan. Sekali-kali lembur sedikitlah demi menambah uang saku, maklum gaji abdi negara di Negeri ini sangat kecil, bahkan setahun gaji sama dengan sebulan gaji koleganya di swasta.

Kalau mau tambahan uang saku lagi, bisa jalan-jalan sambil membawa SPJ para hantu ke daerah. Lumayanlah, apalagi kalau bisa menumpang mobil teman, bisa menumpang makan dan tidur di rumah teman di daerah, sudah pasti lebih banyak sisanya. Soal pertanggungjawaban bisa dibuat, apalagi teknologi memungkinkan untuk itu. Di setiap printer berwarna, hanya tertulis dilarang menggandakan uang, tetapi tidak dilarang membuat pertanggungjawaban. Kalau masih kurang juga, diadakan rapat dengan mengundang para hantu di hotel mewah, sekalian menginap gratis sambil bawa keluarga. Tidak perlu harus korupsi atau berkongkalingkong dengan pihak ketiga untuk hidup nyaman.

Berbagai fasilitas tersedia, mau sekolah gratis tersedia, mau berobat juga gratis, tinggal diurus saja. Apalagi yang sudah menduduki jabatan tinggi, bisa memeroleh pinjaman mobil dan rumah, dan tidak harus mengembalikan, kecuali masih punya rasa malu kalau sudah tidak menjabat lagi. Lalu apalagi yang kurang? Pastinya sih kurang gaji, dan lebih gawat lagi kurang harga diri alias tidak punya rasa malu bila melakukan kesalahan. Sudah sedemikian mewah fasilitaspun masih saja ada yang rewel, minta naik gaji, minta keringanan pinjaman, dan lain-lain. Manusia memang tidak pernah puas, apalagi kalau bukan duitnya sendiri, pasti inginnya macam-macam, mumpung masih memakai uang rakyat. Kapan lagi bisa begitu? Mudah-mudahan contoh tetangga sebelah tidak ditiru di negeri kita tercinta ini.

Tulisan Sebelumnya »

Kategori