Fenomena koin Prita nampak seperti bola salju yang menggelinding lama kelamaan membesar dan bersatu melindas ketidakadilan. Peristiwa ini dapat ditangkap sebagai suatu peristiwa dimana media internet, disamping media mainstream, berperan besar dalam menggelindingkan bola salju tersebut. Dan pada hari ini telah mencapai titik kulminasinya, dengan akan diserahkannya koin tersebut kepada yang bersangkutan. Peradaban baru telah lahir, dimana dunia maya menjadi kekuatan yang mampu mengimbangi alam nyata dan media mainstream dalam mengolah isu-isu kritis saat ini.
Namun ada sesuatu yang menarik untuk ditangkap dari fenomena pengumpulan koin tersebut. Pertama, terlihat sekali ternyata bahwa sebagian besar masyarakat masih peduli pada ketidakadilan yang menimpa saudaranya. Kedua, semua bahu membahu dengan cair dan ikhlas menghitung satu demi satu koin hingga mencapai ratusan juta rupiah, tanpa ada kecurigaan bakal hilang atau ditilep, dan belum ada satupun yang tertangkap basah mengantungi koin-koin tersebut. Ketiga, gerakan bersifat cair, artinya siapa saja bisa terlibat, tidak peduli kaya miskin, pengusaha atau pengemis, sehat atau sakit, semua berbaur tanpa ada keinginan menonjolkan diri. Untuk hal ini salut saya sampaikan kepada om Yusro dan om Ndaru serta teman-teman di Langsat dan Jatipadang yang dengan rendah hati tidak mau dicantumkan namanya dalam Rekor MURI atau Indonesia Book of Record, tetapi hanya bersedia dicantumkan nama seluruh masyarakat Indonesia di sana.
Hal lain yang lebih penting adalah peristiwa tersebut dapat dianggap sebagai corong untuk menyuarakan hati nurani rakyat tanpa harus melawan hukum. Koin Prita seperti kanal yang menyalurkan rasa jengah dan rasa marah rakyat terhadap ketidakadilan yang masih terjadi dalam proses hukum yang disimbolkan oleh ibu Prita. Hal ini mengingatkan penulis kepada peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949, dimana rakyat bahu membahu bersama pejuang berusaha untuk meyakinkan dunia internasional bahwa Indonesia masih ada, dengan melakukan Serangan Fajar ke Kota Yogyakarta selama enam jam. Peristiwa tersebut seperti sulit terulang kembali dalam skala nasional, hanya reformasi 1998 dan saat ini saja kejadian dimana rakyat bahu membahu dengan ikhlas dapat dilihat dengan kasat mata. Selebihnya, kita sering mendengar adanya demo bayaran, atau demo anarkis yang lebih bersifat destruktif ketimbang positifnya.
Mudah-mudahan fenomena ini dapat berlanjut secara simultan dan cair, untuk tetap mengingatkan pemerintah dan wakil rakyat serta penegak hukum agar senantiasa bekerja secara profesional dan proporsional, tidak tebang pilih. Gerakan tersebut dapat berkembang menjadi revolusi damai seperti di Rusia atau Jerman Timur, dengan tanpa kekerasan mampu merobohkan tembok komunisme yang saat itu tidak akan mungkin dibayangkan sebelumnya. Salut buat seluruh masyarakat Indonesia yang masih peduli dengan penuh keikhlasan tanpa pamrih bahu membahu mengkritisi ketidakadilan tanpa harus melawan hukum dan berbuat destruktif.