Oleh: dizzman | Oktober 22, 2007

Mudik lewat Jalur Alternatif

Mudik kali ini merupakan yang pertama kalinya menggunakan mobil kesayangan, Daihatsu Classy, setelah bertahun-tahun masih numpang mobil ortu, sekalian test drive untuk kedua kalinya (pertama waktu libur panjang bulan Mei ke Surakarta), apakah masih OK atau ketemu penyakit baru lagi.

Singkat cerita, setelah Sholat Ied hari Sabtu (13/10/07), kami sekeluarga berangkat menuju kota Bandung sekitar jam 10 pagi dari Kebon Jeruk. Odometer kecil menunjukkan angka 927 ketika kami berangkat. Seperti biasa kami melalui jalan tol Jakarta – Cipularang untuk mempercepat waktu tempuh. Akan tetapi ternyata pada hari itu lalu lintas padat merayap, terutama selepas Cikarang karena penyempitan lajur (bottle neck) dari tiga menjadi dua lajur. Lepas Karawang Barat baru lalu lintas kembali normal, dan saya putuskan untuk istirahat dulu di rest area KM57 setelah satu jam lebih terjebak kemacetan. Ternyata untuk makan siangpun tidak kalah antriannya dengan kemacetan di jalan raya, hampir 30 menit berdiri menanti hadirnya makanan siap saji ayam goreng ternama dari negeri Paman Sam. Tanpa membuang waktu lagi, kami langsung tancap gas sambil makan di jalan, dan sampai di kota Bandung sekitar jam 13 siang. Odometer menunjukkan 081 ketika kami mengisi bensin seharga Rp. 170.000 (sekitar 35,55 liter) di daerah Seskoad.

Setelah selesai bermaaf-maafan dengan ibu mertua dan sanak saudara di Bandung, esoknya pukul 15.00 kami bertolak menuju Tasikmalaya. Radio El-Shinta yang setia menemani memberikan informasi bahwa selepas Cileunyi hingga Nagrek macet total, sehingga kami putuskan untuk melalui jalur Cijapati. Odometer menunjukkan angka 123 saat kami berangkat dari Bandung, dan sampai di kota Majalaya pada angka 149. Empat Km selepas Majalaya kami sampai pada pertigaan dan langsung belok ke kanan menuju jalan Cijapati. Hingga 15 Km jalan masih lancar, sampai tiba-tiba mobil di depan kami berhenti dan terlihat antrian panjang pada turunan tajam di depan kami. Rupanya sedang terjadi buka tutup jalan untuk naik dan turun. Setelah hampir 20 menit menunggu, tiba giliran turun, dan jalan kembali lancar hingga pertigaan Kadungora, tepat odometer menunjuk angka 173. Kami putuskan belok kanan untuk menghindari Nagrek, melalui Leles – Garut – Wanaraja – Warung Bandrek, walau memutar hampir 50 Km lebih panjang, namun tidak terjebak kemacetan. Tanpa terasa kami telah sampai di Ciawi, Tasikmalaya pada pukul 21.00 pada odometer 263 dan kami langsung beristirahat di rumah nenek. Hari Senin bersilaturahmi seharian, esoknya kami langsung menuju kota Tasikmalaya menghadiri akad nikah di daerah Awipari. Odometer menunjukkan angka 311 ketika meninggalkan daerah tersebut untuk menuju Kota Pekalongan melalui Ciamis.

Perjalanan melalui jalur alternatifpun dimulai. Kami melalui jembatan two in one (Kereta Api di atas dan jalan biasa di bawah dalam satu konstruksi) di daerah Cirahong yang menghubungkan wilayah Tasikmalaya dengan Ciamis. Kami seperti melalui lorong waktu ketika melintas di dalam jembatan tersebut (lihat gambar berikut di bawah ini).

Jembatan_Cirahong  dsc00130.jpg

 Lepas dari jembatan tersebut, beberapa menit kemudian kami sampai di Kota Ciamis. Sejenak kami berhenti di posko mudik salah satu perusahaan telekomunikasi ternama untuk beristirahat sambil menikmati berbagai fasilitas yang ditawarkan seperti main PS, minum susu, info mudik, dan sebagainya, sekalian beli pulsa yang berhadiah sarung HP.Pukul 13.00, kami bertolak dari Ciamis menuju kota Kuningan melalui jalur alternatif via Kawali dan Cikijing. Saat itu odometer menunjukkan angka 317. Kondisi jalan relatif bagus, namun berliku dan penuh tikungan hingga sampai ke Cikijing. Masuk pertigaan di Cikijing, kami langsung belok ke kanan menuju kota Kuningan (Odometer=368). Jalan kembali berliku hingga masuk kota Kuningan. Namun di antara kedua kota tersebut terdapat obyek wisata Waduk Darma yang terletak sekitar 8 km dari Cikijing atau 14 km dari Kuningan.

Waduk Darma Waduk_Darma

Masuk ke kota Kuningan, odometer menunjukkan angka 390 pada waktu sekitar pukul 14.55 WIB. Di kota ini terdapat makanan khas berupa tahu kuningan dan tape ketan, namun mengingat waktu dan ramainya pembeli belum sempat kami menikmati kedua hidangan tersebut. Kendaraan terus melaju dan berhenti di pompa bensin ketika odometer telah menunjukkan angka 401 dan meteran bensin telah bergeser ke titik E. Perjalanan dilanjutkan kembali melalui Cilimus – Sindanglaut – Ciledug – Ketanggungan – Slawi – Tegal menempuh jarak hampir 100 Km. Jalan yang kami lalui relatif datar dan lurus, serta kondisi jalan relatif bagus, kecuali ruas Ketanggungan – Slawi yang masih bergelombang dan perlu berhati-hati. Kami mampir ke kota Tegal untuk menjemput paman dan bibi yang juga ingin ikut ke Pekalongan. Jalan yang kami gunakan kembali mengikuti jalur utama Pantura yang relatif mulus dan sudah terbagi dua jalur empat lajur, kecuali menjelang Pemalang hingga masuk Wiradesa di wilayah Pekalongan, jalan terbagi menjadi tiga lajur, satu lajur ke arah timur, dua lajur ke arah barat. Singkat cerita, kami tiba di kota Pekalongan pukul 21.30 malam dan odometer menunjuk angka 580 pada hari Selasa (16/10/07).

Dua hari kami berada di Kota Pekalongan bersilaturahmi dengan sanak saudara, sembari menikmati hidangan khas Pekalongan yang tidak ada di kota lain, bahkan Jakarta sekalipun. Hidangan tersebut antara lain soto Pekalongan atau lebih dikenal dengan nama Taoto, yaitu soto daging/jeroan yang dicampur tauco dan tauge/bihun dan dimakan bersama lontong/ketupat (lihat gambar di bawah ini).

taoto3 Taoto2 Taoto1

makanan lain khas Pekalongan adalah Sego Megono, yaitu nasi yang ditaburi bumbu dari nangka mentah yang dicincang dan dimasak sebagai menu utama, dengan lauk seperti tempe goreng. (lihat gambar di bawah ini)

segomegono  tempe

Sebenarnya masih ada lagi makanan lain yang belum sempat difoto, yaitu Pindang Tetel, semacam soto dengan bumbu seperti rawon tanpa nasi, yang diisi oleh daging atau jeroan, dan dihiasi krupuk Usek (krupuk khas Pekalongan).

Kamis (18/10/07) kami bertolak dari Kota Pekalongan sekitar pukul 11.40 siang menuju Kota Bandung kembali, ketika odometer menunjukkan angka 667. Paman dan bibi juga kembali ikut sampai kota Tegal. Sesampainya di Kota Tegal, kami sempatkan dulu mampir sekalian mencicipi Soto Tegal Pak Amir yang terletak di jalan raya Tegal – Slawi KM3. Selain itu tidak lupa juga untuk menikmati Tahu Banjaran atau Tahu Tegal yang terkenal dengan acinya.

SotoTegal  TahuTegal

Sempat isi bensin pada odometer 746 selepas Tegal, kami kembali menelusuri jalur alternatif via Slawi – Jatibarang – Ketanggungan – Ciledug, langsung belok kiri menuju Kuningan via Waled – Ciawigebang. Perjalanan dilanjutkan menuju Majalengka via Cikijing – Maja. Dari Majalengka perjalanan lanjut menuju Kadipaten, dan bertemu jalan utama Bandung – Cirebon. Kondisi jalan relatif mulus dan lancar pada saat itu, namun masih terdiri dari dua lajur dua arah alias satu jalur saja sehingga perlu kehati-hatian dalam menyalip kendaraan. Pukul 21.00 kami tiba kembali di Kota Bandung tanpa lewat tol, namun jalan tetap lancar dan relatif sepi dari Cileunyi hingga Cibiru. Odometer menunjukkan angka 989 ketika sampai di daerah Buah Batu Bandung. Dan selesailah sudah episode jalan-jalan mudik melalui jalur alternatif. Selanjutnya kembali ke Jakarta hari Sabtu (20/10/07) melalui jalur biasa Tol Cipularang dan sampailah waktu bekerja kembali hari Senin…..

Alhamdulillah, si Kessy kesayangan tidak rewel, cuma sedikit rembes oli persnelling habis ganti kopling sebelum lebaran. Mungkin ada yang tahu buat perbaikannya?

About these ads

Responses

  1. WAH BAPAK MENGINGATKAN KAMPUNG KELAHIRAN SAYA PEKALONGAN.

    SATU HAL YG TAK TERLUPAKAN…….. SEGOMEGONO, TEMPE GORENG SAMBEL TRASI. HAHAHAHAHAHA

    NATUR NUWUN PAK SAYA JADI INGIIN PULANG KAMPUNG HEHEHEEEE

  2. sama2, saya juga selalu kangen kampung halaman

  3. kalo mudik lagi mampir aja ke cikijing deket terminal bis itu kediaman saya…….

  4. mudah2an mampir lagi, btw, ente di kantor pajak mana?

  5. Mas kalo boleh tahu, jalur ke jembatan Cirahong itu lewat mana dari Tasik atau dari Ciamis?

    jadi makin penasaran jembatan cirahong…..

    ditunggu kabar lanjutannya yak

    thanks before

  6. dari tasik, lewat manonjaya, trus ada perempatan belok kiri, tanya aja ke arah Ciamis lewat jembatan Cirahong.
    kalo dari Ciamis, ke arah tasik, ada pom bensin stlh rumah Nike Ardila, belok kiri, trus aja ntar ketemu jembatannya


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: