Pengangguran di Indonesia menurut survey beberapa lembaga, telah mencapai lebih dari 40 juta jiwa. Tetapi di sisi lain ternyata masih banyak kekosongan/lowongan pekerjaan yang belum diisi. Sebagai contoh di kantor saya sendiri saat ini, sebenarnya masih banyak membutuhkan staf baru. Iseng-iseng saya tanya bagian kepegawaian, ada apa sih koq dibiarkan kosong? Jawabanya sederhana, susah mencari orang yang dipercaya!! Lamaran pindah dari instansi lain sudah mencapai ratusan, tapi karena tidak ada referensi atau track record yang jelas (atau gak ada orang dalam yang membawa??), dibiarkan aja lamaran tersebut menumpuk. Saya sendiri bisa pindah lantaran direferensikan oleh teman saya, yang (mungkin) percaya bahwa saya layak untuk bekerja di sini berdasarkan track record saya di tempat kerja lama saya (karena dia juga dulu satu instansi dengan saya, dan pindah juga atas referensi temannya juga, kayak MLM aja) .
Kembali ke masalah ‘kepercayaan’ atau lebih tepat diterjemahkan sebagai ‘trust’ (bukan believes), saya pernah mengalami hal buruk sewaktu kuliah dulu. Sebagai mahasiswa tingkat akhir, senang sekali waktu itu dipercaya untuk nyambi bekerja freelance di konsultan swasta, dengan jadwal kerja tidak terikat waktu bekerja, tapi terikat deadline pekerjaan. Karena tidak terikat waktu bekerja, saya menjadi malas, kadang hanya satu hari dalam seminggu nongol di kantor, sisanya saya kerjakan di rumah. Kadang-kadang saking malasnya, saya selalu minta tunda deadline satu atau dua hari ke depan, dan baru saya kerjakan malam menjelang perpanjangan waktu tiba. Sewaktu diundang rapatpun, saya datang selalu terlambat, paling cepat setengah jam setelah rapat dimulai, padahal waktu itu sedang pembahasan laporan akhir pekerjaan di depan pemberi kerja lagi. Memang akhirnya pekerjaan tersebut tuntas dikerjakan, tetapi berikutnya saya tidak dipanggil lagi untuk melanjutkan tahap selanjutnya. Bahkan, yang lebih menyedihkan lagi, tidak ada satupun karyawan perusahaan yang hadir dalam acara pernikahanku, padahal mereka saya undang semua lho. Mungkin kebetulan mereka sibuk, tapi mungkin saya sedikit su’udzhon kalau mereka sudah tidak memberi perhatian lagi kepada saya.
Pesan yang dapat dibaca, jangan meremehkan kepercayaan, walau hanya hal sepele sekalipun. Terlambat masuk kantor, apalagi kalau ada meeting, terlalu sering dan alasan terlalu dibuat-buat, dapat mengurangi bahkan menghilangkan kepercayaan pimpinan kepada kita. Makanya mengapa orang Jepang selalu tepat waktu, dan selalu meminta maaf walau terlambat satu detikpun.
Saya cuma sedikit khawatir, jangan-jangan sebagian pengangguran tersebut memang tidak layak untuk dipercaya. Satu contoh kasus lagi, ada tetangga yang sudah beberapa kali dibantu untuk masuk kerja tanpa tes, tapi baru beberapa bulan mangkir lagi. Alasannya selalu gak cocok tempat kerjanya atau jenis pekerjaannya. Sementara dimodali berdagangpun tidak mau. Lalu maunya apa? Kalau mau jadi bos ya mulailah dari bawah dulu, berikan kepercayaan pada pimpinan maupun pelanggan (customer), toh bila waktunya datang tidak akan lari dikejar.
Pesan berikutnya, jangan terlalu memilih-milih pekerjaan, jalani dulu, berikan kepercayaan pada orang lain, Insya Alloh nanti orang tersebut atau orang lain yang mendengar track record kita akan membantu bila ada kesulitan. Sewaktu pertama kali bekerja sebagai PNS, seluruh pekerjaan dari hulu ke hilir hampir semua saya kerjakan sendiri, mulai dari mengkonsep surat, mengetik, menomeri, memasukkan dalam amplop, bahkan sampai mengantar surat!!! Pimpinan cuma tinggal koreksi dan teken saja. Sementara cleaning service atau pesuruh sedang pada sibuk, sehingga tidak mungkin saya biarkan surat menumpuk, sementara sifatnya penting untuk segera terkirim. Tetapi hikmahnya, saya bisa mengenal banyak orang, dan beberapa di antara mereka malah ada yang memberikan pekerjaan sampingan untuk saya. Dari situlah saya bisa hidup tanpa harus melakukan korupsi.
Sekali lagi, jagalah kepercayaan, karena kepercayaan itu lebih mahal daripada uang sekalipun. Uang hilang dapat terganti, kepercayaan hilang sulit kembali.