Oleh: dizzman | Maret 19, 2010

F I R A S A T

Kata orang tua dulu, manusia sebenarnya dilengkapi oleh indera keenam alias instink atau firasat atau pertanda sesuatu. Namun tidak semua manusia mampu membaca firasat tersebut. Kadang malah ada yang mengatakan cuma dipas-paskan, atau menjadi pembenaran bila kejadiannya sudah berlalu. Saya sendiri termasuk netral, artinya kadang percaya kadang tidak dengan yang namanya firasat.

Kegagalan pergi kopdar sepertinya sudah diberi pertanda jauh hari sebelumnya. Pertama ketika mengajukan izin, mengingat hari kejepit biasanya sering ada sidak, tidak ada izin apapun yang diberikan kecuali sakit atau meninggal dunia. Setelah lobi sana sini, akhirnya diberi kompensasi berangkat sore hari, alias siang hari bisa meluncur ke bandara. Saya langsung konfirm mbah darmo dan the crow mengenai kemungkinan tersebut. Setelah mereka acc, aku segera pesan tiket online via kartu kredit. Langkah demi langkah dilalui, setelah selesai mengisi data keberangkatan dan data pribadi, kemudian langkah terakhir konfirmasi kartu kredit. Rupanya langkah terakhir ini agak tersendat.  Hampir 30 menit berlalu, halaman konfirmasi belum juga muncul, sementara untuk refresh atau back dilarang. Tunggu punya tunggu tidak muncul, akhirnya dengan terpaksa kupencet refresh. Khawatir kejadian serupa terulang, akhirnya kubatalkan pesan online. Rencana setelah Jumatan mau pesan offline.

Kedua, saat sedang Jumatan, kencleng masjid lewat di depan mata. Kuisi dengan lembaran seribu rupiah. Namun sesaat koq terasa gelo (bahasa Jawa: tidak enak atau sayang), kenapa tidak sepuluh ribu sekalian. Seperti ada pertempuran batin sesaat, dan perasaan tidak enak itu berlanjut menjelang sholat Jumat akan dimulai. HP berdering tiada henti, padahal takbir shalat telah dimulai. Terpaksa kuangkat karena sepertinya ada berita penting atau darurat. Benar rupanya, rumahku kebobolan lagi. Dalam tiga bulan sudah tiga kali rumah kebobolan, padahal sudah dikelilingi oleh Garis Maginot yang anti tank dan pesawat udara. Rupanya metode kuda troya masih cukup ampuh untuk menjebol garis pertanahan. Tanpa harus meloncat tembok atau membobol pagar, mereka menyamar menjadi petugas PLN. Memang lagu lama sih, tapi karena rumah hanya dihuni seorang dewasa, dengan mudah gendam beraksi, dan lenyaplah sebuah laptop plus PDA bersama sang intruder.

Pupus sudah keinginan pergi kopdar ke Jogja. Rupanya Tuhan berkendak lain dan sudah memberi tanda pada kita untuk tidak berangkat. Selamat kepada kawan-kawan yang sudah kopdar, terima kasih oleh-olehnya terutama sdr Icarus yang telah menitipkan sebungkus kopi. Mudah-mudahan ini menjadi pengobat lara tak sua dengan teman-teman semua.


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.